Kamis, 15 Agustus 2013

Mereka yang Mencintai Sepenuh Hati



Saat kau terjatuh dan terasa sulit bagimu untuk berdiri
Saat kau tersesat dan kau kehilangan arah
Saat kau menangis dan tak ada seorang pun yang mengerti penderitaanmu
Saat kau berada dalam masa terburukmu sekalipun
Dia yang masih ada di sampingmu dan menopang tubuhmu pastilah
Orang yang menyayangimu setulus hati


                  Mama selalu berkata, “penuhi impianmu dan buatlah itu menjadi kenyataan” . maka dari itu aku jadi seorang pemimpi yang keras hati seperti sekarang, tidak akan ada yang bisa membuatku berhenti untuk meraihnya selagi bisa, meski itu aku tau akan melibatkan banyak orang selain diriku sendiri.
              Hari itu aku pulang dengan bibir yang tertekuk, dengan kesal aku masuk ke rumah dan duduk di dekat mama yang tengah bersantai sembari menonton televisi, bapak seperti biasa asyik dengan kebiasaan jelek nya menghisap sebatang rokok merek kesayangannya dan duduk bersender pada dinding kayu rumah kami.
Mama yang terheran-heran atas kedatanganku yang tiba-tiba dan suara salam yang setengah hati lantas bertanya
“nah kok balek (balek = pulang), katonyo mau tiduk rumah makwo.. “
“dak jadi… (tidak jadi)” jawabku ketus
Bapak yang mendengar jawabanku bukannya marah tapi malah tertawa kecil di sela-sela hembusan rokoknya, bapak memang selalu begitu, jarang sekali kulihat dan kudengar bapak marah, dia memang mungkin terbiasa hidup seperti itu sedari kecil, tidak memikul dendam dan tidak pemarah. Bapak tidak akan marah untuk sesuatu yang sepele seperti ini meskipun seharusnya aku tidak boleh seperti itu pada mereka, kadang bapak malah menjadi terlalu lemah kepada anak-anaknya dibanding mama.
“ngapo lagi nak…?? (kenapa nak) “ Tanya mama sekali lagi
              Aku sedari kecil, tidak pernah bisa berbohong kepada kedua orang ini. mungkin mudah bagiku berbohong soal “aku lagi otewe nah ke sana” kepada teman-temanku dibanding kepada mama dan bapak, untuk semua perbandingan yang ada, aku benar-benar tidak bisa menyembunyikan apa yang aku rasakan dan aku sedang laksanakan kepada mereka, aku sadar akan ada banyak hal buruk yang akan terjadi jika aku berbohong, dan entah kenapa filosofi seperti itu terus saja kupegang hingga sekarang
              Lalu aku menceritakan kejadian hari itu, semua secara detil tentang apa yang mengganggu ku
Sebagai seseorang yang dibesarkan dengan impian aku sungguh tidak terima jika impian ku itu dianggap rendah oleh seseorang, diinjak-injak dan ditolak keberadaannya, apalagi jika yang melakukan itu adalah orang yang terdekat di hidupku, orang yang kukenal sejak aku terlahir didunia ini.
Aku nelangsa, fikiranku meradang mengingat kembali di saat ketika mereka mengatakan secara terang-terangan bahwa “tidak mungkin anak seorang tukang sapu smp mampu menamatkan pendidikan di fakultas kedokteran, darimana biaya yang akan mereka gunakan untuk itu? Sementara orang yang lebih dari mampu saja bahkan terbirit-birit menyekolahkan anaknya disana”
Tidak sadarkah mereka aku ada di sana? Tidak sadarkah mereka bahwa aku berada di tempat yang sama dimana mereka menertawakan impianku? Apa mereka berfikir aku tidak punya pendengaran? Seakan sengaja membiarkanku mendengarnya. Apakah mereka berfikir aku akan baik-baik saja dan bisa duduk manis setelah mendengar ocehan mereka yang menyakiti hati itu?
Bahkan tampa dukungan moril sedikitpun
Dan itu bukan hanya kali pertama aku mendengar hal yang melukai impianku seperti itu, telingaku sudah penuh menampungnya, salahkah aku jika aku menginginkan cita-cita itu? Sedang selama tiga tahun ini mereka tidak tau bagaimana aku melewatinya. Bagaimana aku jatuh dan berdiri untuk mengejar apa yang tertinggal, bagaimana aku membangun dasar dari mimpiku. Salahkah aku yang seorang anak tukang sapu ini bermimpi menjadi seorang dokter sedangkan mereka tidak tau apa yang terjadi selama 3 tahun belakangan ini? kenapa mereka tidak mendukungku seperti ketika aku mendapatkan kesempatan untuk pergi ke provinsi? Kenapa mereka terasa berlari menjauhiku? Kenapa mereka seakan menghindar?
              Suaraku bergetar ketika aku menamatkan ceritaku, ruangan yang hening karna ditinggal tiga prajurit ke tempat pembelajaran Qur’an membuat seisi ruangan dapat mendengar apa yang kukatakan meski pelan sekalipun. Pada akhirnya aku hanya meneteskan air mata lagi, kepedihan hatiku membuat ku tidak mampu menahan air mata itu terlalu lama
Mama menghela navas pelan, sementara bapak terlihat tidak lagi menghisap rokoknya, dia mematikan punting rokok itu di asbak. Seperti mengerti penderitaanku, mama menarikku dan memelukku lembut lalu mengusap rambutku, membiarkan aku menangis di peluknya.
              Tidak ada kepedihan yang lebih menyakitkan daripada mengetahui orang-orang terdekat kita yang kita piker akan ada dan mendukung impian kita malah berbalik dan berusaha mengubur impian yang kita bangun itu. Seakan tidak berhenti, berkali-kali mereka datang kepada bapak dan membujuk bapak untuk berhenti mengikuti impian konyol anaknya ini dengan alasan “takut dia berhenti di tengah jalan” atau “demi kebaikan dia”.
Demi kebaikan siapa?? Itu jelas tidak akan pernah baik untukku. Lalu apakah mereka mengetahui apa yang terjadi di masa depan? Toh jikapun aku memilih untuk menjadi guru seperti yang mereka inginkan mereka juga tidak akan ada untuk menopang aku secara financial, kemana mereka selama ini? kenapa seperti tersentak dan memohon agar aku mengurungkannya?
Aku ini bukanlah orang yang hidup di dunia mimpi meski aku punya begitu banyak mimpi untuk diwujudkan, bukan orang yang bermimpi terbang di langit lalu terbangun dan menyaksikan impian itu semu selamanya, aku ini hidup di dunia nyata. Aku mengerti tanpa harus mereka menjelaskan, tapi apa aku sebegitu rendahnya sampai mimpiku, cita-citaku dianggap sampah oleh mereka?

“kamu tidak usah mendengarkan mereka, mereka tidak tau apa yang kita lewati selama ini, mereka hanya bisa bicara tampa melakukan apapun. Jika mereka berhenti maka kita tidak boleh berhenti, cukup kita saja yang berusaha. Biar mereka jadi penonton…”

              Sekali lagi aku mendengar kalimat itu, kalimat yang selalu di ucapkannya ketika aku merasa tidak ada seorangpun yang mampu menolongku dari pekatnya dunia, kalimat yang sama dengan yang diucapkannya ketika aku bertengkar dengan temanku, ketika semua tidak seperti yang aku harapkan
Kalimat itu akhir-akhir ini sering terdengar sejak pengumuman kemarin, kalimat yang begitu kuat dan menghangatkan hatiku yang dingin karna air mata. Kalimat yang meneguhkan keyakinanku bahwa mimpi ini tidak boleh hanya sekedar menjadi mimpi saja


Sembari mengelus rambutku mama berkata “apapun yang mereka katakan, apapun pendapat mereka, teruslah maju kedepan dan raih cita-cita mu. Fokuslah kesana dan belajarlah dengan lebih baik lagi, mama dan bapak akan mengusahakan kamu sekolah disana bagaimanapun caranya, bukde mu kan juga masih ada nak, kita belum benar-benar sendirian. ayo kita buktikan kalau kita juga bisa…. “

“aah sudahlah yuk,, “ bapak menimpali “pokoknya ayuk sekolah disana, sekarang focus ke sekolah dan berhenti mendengar sesuatu yang Cuma bisa bikin sakit hati, toh beasiswa juga banyak nak.. pokoknya bapak sama mama percaya kamu bisa…”
“nak, tidak ada yang sayang ke kamu melebihi sayangnya orang tuamu ke kamu nak… jadi wajar kalau mereka tiba-tiba berbalik seperti itu…” ujar mama lagi
              Sejak hari itu aku sepenuhnya menyadari bahwa mimpi ini adalah serius dan pasti tidak akan mudah maka dari itu aku tidak bisa main-main lagi, orang tuaku telah mempertaruhkan segalanya untuk ini maka aku tidak bisa berhenti lagi
Aku harus tetap melangkah maju kedepan
Kejadian demi kejadian itu seperti cobaan dan sentilan untuk membuka mataku tentang siapa-siapa yang menyayangi sepenuh hati, bukan orang yang ada  dikala senang dan bertahta saja, menyadarkanku tentang siapa yang sepatutnya kudengar dan yang tidak, semua hitam putih telah begitu jelas bagiku.
Aku bukan lagi anak bodoh yang akan menurut hanya karna imbalan makan gratis saja, aku mengerti semuanya setelah ini

Saat kau terjatuh dan terasa sulit bagimu untuk berdiri
Saat kau tersesat dan kau kehilangan arah
Saat kau menangis dan tak ada seorang pun yang mengerti penderitaanmu
Saat kau berada dalam masa terburukmu sekalipun
Dia yang masih ada di sampingmu dan menopang tubuhmu pastilah
Orang yang menyayangimu setulus hati
Dan orang itu adalah mama dan bapakku

 
 
Posting Komentar